Setelah sequel-sequel beberapa film horor. Hanung Bramantyo hadir lewat film horor garapan terbarunya yang berjudul Legenda Sundel Bolong. Sebelumnya Hanung juga pernah membesut film genre horor berjudul.. Lentera Merah.
Berbeda dengan beberapa film horor nasional yang beredar, Hanung Bramantyo tidaklah ingin memakai setting masa sekarang dalam film ini. Nuansa tahun 60-an dipakai Hanung untuk menunjukan awal dari kisah bagaimana terwujudnya sang Hantu Sundel Bolong yang seram dan cukup mengerikan dalam penampakannya.
Kisahnya bercerita mengenai kehidupan seorang perempuan cantik yang berprofesi sebagai ronggeng bernama Imah (Jian Batari) yang menikah dengan seorang pemuda desa yang lugu bernama Sarpa (Baim). Setelah menikah Sarpa memilih untuk pindah ke Desa Sindang Sari, untuk sebuah kehidupan yang lebih baik. Keinginan Sarpa diamini oleh Imah yang juga telah berhenti menjadi ronggeng semenjak menikah.
Namun, saat berada di Sindang Sari, Imah nampaknya dipandang rendah sebagai wanita murahan karena dulu berprofesi sebagai ronggeng. Maklumlah, dalam pandangan masyarakat, ronggeng seringkali identik tidak berbeda dengan wanita murahan yang menyerahkan tubuhnya kepada hidung belang selain profesinya sebagai penari. Namun, Sarpa dan Imah berusaha tidak mempedulikan cibiran dari masyarakat.
Tak lama, Sarpa berhasil kerja di perkebunan milik tuan tanah Danapati (Teo Pakusadewo). Danapati yang terlihat baik, sebenarnya seringkali mempermainkan perempuan dan mempunyai sikap yang sangat kejam. Suatu saat, kecantikan Imah terlihat oleh Danapati, dan dengan akalnya yang licik menugaskan Sarpa untuk pergi ke Sumatra membeli bibit teh.
Kepergian Sarpa, membuat Imah tidaklah mendapatkan perlindungan dari sang suami. Dengan kejamnya Imah harus mengetahui dan merasakan bejatnya Danapati. Tidak hanya itu, untuk menghilangkan jejak atas perbuatan laknatnya, Danapati melakukan konspirasi dengan petinggi desa dan anak buahnya.
Imah yang diperlakukan tidak senonoh, akhirnya memilih balas dendam terhadap semua pihak yang telah menyakitinya. Sambil menyelesaikan dendamnya, Imah tetap setia menunggu Sarpa yang tak kunjung pulang dari Sumatra. Di tengah aksi pembalasan Imah, persoalan semakin pelik ketika pekerja-pekerja sewaan Danapati melakukan protes terhadap upah yang tidak sesuai.
Mengomentari film Legenda Sundel Bolong, pilihan waktu lampau nampaknya cukup jitu yang dilakukan penulis Erik Tiwa dan juga Hanung Bramantyo untuk membuat sebuah film horor yang berkualitas. Alur cerita terasa pas dan menarik untuk diikuti sepanjang film berlangsung. Nuansa mencekam juga dapat dibangun dalam cerita film ini tanpa mengada-ada.
Usaha Hanung membuat situasi yang mencekan dalam gambar-gambar yang diberikan dalam film cukup menipu mata. Adegan malam yang dilakukan pada siang hari nampaknya berhasil. Eksperimen Hanung Bramantyo, untuk hal tersebut dapat dikatakan sukses.
Akting para pemain juga layak mendapatkan pujian. Jian Batari yang menjadi Sundel Bolong, nampaknya tampil tidak mengecewakan. Akting standar dalam KM 14 film Jian sebelumnya, terasa hilang ketika melihat aksinya dalam memerankan Imah dan Sundel Bolong. Maklumlah, Jian memikul tugas yang cukup berat menggantikan peran aktris Suzana yang tampil memukau dalam memerankan Sundel Bolong pada era tahun 80-an.
Tio Pakusadewo juga layak mendapat acungan jempol atas perannya yang antagonis sebagai Danapati. Tio membuktikan kepada publik, bahwa peran apa saja dapat dilakoninya. Debut Baim juga cukup lumayan dalam berperan sebagai Sarpa yang lugu dan tinggal di desa.
Begitu juga, Uli Auliani yang berperan sebagai Lilis yang merupakan teman Imah dengan profesi yang sama sebagai ronggeng. Sayang, Hanung tidak memberikan porsi lebih terhadap Uli atas perannya sebagai Lilis dalam film ini. Walaupun lama tidak bermain dalam film layar lebar, Uli menampilkan akting yang baik, sama seperti saat ia membintangi Maskot.
Suasana Politis Tahun 60-an ala Hanung
Nuansa tahun 60-an yang ditampilkan oleh Hanung dan Erik Tiwa juga cukup menarik ketika mencoba menyelipkan beberapa kejadian sejarah yang terjadi pada tahun 60-an. Hadirnya protes para pekerja sewaan Danapati, seperti penggambaran aksi organisasi sayap PKI (Partai Komunis Indonesia) bernama BTI (Barisan Tani Indonesia) yang kerap melakukan protes pada tuan-tuan tanah pada era tersebut.
Nuansa sejarah lainnya juga terlihat dari saat awal film, dimana Hanung memperlihatkan visual potongan koran yang menceritakan kejadian-kejadian politik besar yang terjadi awal tahun 60-an.
Walaupun tidak cukup penting, Hanung dan Erik Tiwa juga menyisipkan satu kalimat yang cukup menarik saat Sarpa ingin pergi dari desa dan bekerja di tempat lain. Teman Sarpa menjawabnya dengan kata, asal jangan ikutan jadi tentara. Kalimat tersebut mungkin biasa, namun menjadi tidak biasa melihat suasan tahun 60-an yang saat itu (mungkin saja) agar tak di cap PKI, banyak pemuda desa memilih masuk tentara.
Secara keseluruhan, Hanung nampaknya membuktikan kepada penonton yang seringkali sinis dalam menilai film horor nasional “asal seram” dan “asal judulnya menghebohkan”. Legenda Sundel Bolong menjadi film yang sangat horor tanpa pola harus memaksakan dandanan hantu yang menor seramnya. Begitu juga ketegangan tidak harus tampil dengan menakuti penonton dengan pola film Scream atau What You Did Last Summer. Legenda Sundel Bolong dapat dikatakan salah satu film horor terbaik di tahun 2007 ini. Bravo Buat Hanung !!!
Review Rating :







Sumber http://www.indosinema.com/review/522